Dalam dunia perbankan, ada sebuah wisdom yang jangan coba
dilanggar, atau perusahaan kita bisa mengalami masalah serius menjurus
bangkrut. Yaitu: jangan pernah menggunakan pinjaman jangka pendek untuk
membiayai investasi jangka panjang. Karena itu nggak matching. Kita
ingin membangun pabrik, tidak punya uangnya, lantas pinjam ke bank,
hanya dikasih jangka waktu setahun. Itu berbahaya jika tetap digunakan.
Pabriknya bahkan belum jadi setahun, uangnya sudah harus dikembalikan.
Nah, berbeda kasus jika pinjamannya jangka panjang, obligasi sepuluh
tahun misalnya. Pabriknya sudah beroperasi, sudah menghasilkan, uangnya
bisa dikembalikan. Tidak masalah.
Sebenarnya, dalam hidup kita,
wisdom serupa ini berserakan di mana-mana, tidak hanya di text book
manajamen keuangan. Apa yang sedang kita lakukan? Apa yang ingin kita
lakukan? Mau kemana? Mau ngapain? Selalu saja dalam kaca mata waktu
konteksnya dua, jangka panjang, atau jangka pendek.
Pendidikan
misalnya, orang2 yang terbiasa berpikir pendek, hanya menerjemahkannya
dengan ijasah, lulus, dapat kerja. Tapi orang2 yang berpikir panjang,
menganggap pendidikan adalah proses tiada henti memperoleh ilmu yang
bermanfaat. Never ending story. Pekerjaan contoh berikutnya, orang2 yang
terbiasa berpikir pendek, maka hanya naksir gaji dan materi, tapi
orang2 yang berpikir panjang, menilai pekerjaan sebagai profesi jangka
panjang yang memberikan kebahagiaan. Itu benar, siapa sih yang tidak mau
jalan pintas? Pasti mau semua. Tapi jangan lupakan sisi jangka
panjangnya. Boleh jadi, jalan pintas yang kita ambil, menguntungkan di
momen2 sekarang, tapi seiring waktu berlalu, kita sebenarnya semakin
rugi, kehilangan daya saing, bahkan benar2 tertinggal jauh, hanya bisa
menonton tidak bisa melakukan apapun lagi.
Berpikir panjang juga
memberikan pemahaman baik atas situasi tertentu. Hei, kita boleh saja
hepi sekarang, senang melakukan sesuatu yang melenakan, seolah bahagia
benar, tapi jangka panjang kita rugi sendiri. Hei, kita boleh saja
merasa lebih keren sekarang, menganggap orang lain kuper, nggak gaul,
tertawa bahak, tapi jangka panjang, boleh jadi kitalah yang terdiam,
ditertawakan banyak orang.
Maka, sungguh penting sekali
memikirkan apakah kita sedang mengurus keperluan jangka panjang kita,
atau hanya fokus pada hal2 bersifat temporer. Sekali kita yakin bahwa
itu bermanfaat untuk masa depan kita, maka jangan pedulikan lagi omongan
orang lain, pun termasuk bisik sesat dan ragu2 dari diri sendiri.
Kitalah yang tahu persis isi hati kita, bukan? Termasuk rencana2 kita?
Buahnya, insya Allah, akan kita petik kelak, sepanjang tekun dan
bersabar.
Berpikir pendek, berpikir jangka panjang ini, dalam
sebuah pribahasa klasik pernah ditulis dengan sangat baik sbb: jika
rencana kita hanya hitungan bulan, cukup tanam saja padi. Jika rencana
kita hitungan puluhan tahun, maka mulailah menanam pohon. Tapi sungguh,
jika rencana kita adalah ratusan tahun, maka mulailah memberikan
pendidikan yang baik bagi siapapun, termasuk bagi diri sendiri.
Maka
semoga kita tidak termasuk golongan orang2 yang tertipu oleh indahnya
godaan kepentingan/kesenangan sesaat. Lupa janji masa depan yang lebih
lama, awet dan tidak bisa diulang lagi.
Sumber: Tere Liye
Ulasan Buku: “Jakarta: 25 Excursions In and Around Indonesia’s Capital”
1 minggu yang lalu











