Berpikir Panjang...

Posted: Senin, 06 Mei 2013 by Arif Ramadha in Label: ,
0

Dalam dunia perbankan, ada sebuah wisdom yang jangan coba dilanggar, atau perusahaan kita bisa mengalami masalah serius menjurus bangkrut. Yaitu: jangan pernah menggunakan pinjaman jangka pendek untuk membiayai investasi jangka panjang. Karena itu nggak matching. Kita ingin membangun pabrik, tidak punya uangnya, lantas pinjam ke bank, hanya dikasih jangka waktu setahun. Itu berbahaya jika tetap digunakan. Pabriknya bahkan belum jadi setahun, uangnya sudah harus dikembalikan. Nah, berbeda kasus jika pinjamannya jangka panjang, obligasi sepuluh tahun misalnya. Pabriknya sudah beroperasi, sudah menghasilkan, uangnya bisa dikembalikan. Tidak masalah.

Sebenarnya, dalam hidup kita, wisdom serupa ini berserakan di mana-mana, tidak hanya di text book manajamen keuangan. Apa yang sedang kita lakukan? Apa yang ingin kita lakukan? Mau kemana? Mau ngapain? Selalu saja dalam kaca mata waktu konteksnya dua, jangka panjang, atau jangka pendek.

Pendidikan misalnya, orang2 yang terbiasa berpikir pendek, hanya menerjemahkannya dengan ijasah, lulus, dapat kerja. Tapi orang2 yang berpikir panjang, menganggap pendidikan adalah proses tiada henti memperoleh ilmu yang bermanfaat. Never ending story. Pekerjaan contoh berikutnya, orang2 yang terbiasa berpikir pendek, maka hanya naksir gaji dan materi, tapi orang2 yang berpikir panjang, menilai pekerjaan sebagai profesi jangka panjang yang memberikan kebahagiaan. Itu benar, siapa sih yang tidak mau jalan pintas? Pasti mau semua. Tapi jangan lupakan sisi jangka panjangnya. Boleh jadi, jalan pintas yang kita ambil, menguntungkan di momen2 sekarang, tapi seiring waktu berlalu, kita sebenarnya semakin rugi, kehilangan daya saing, bahkan benar2 tertinggal jauh, hanya bisa menonton tidak bisa melakukan apapun lagi.

Berpikir panjang juga memberikan pemahaman baik atas situasi tertentu. Hei, kita boleh saja hepi sekarang, senang melakukan sesuatu yang melenakan, seolah bahagia benar, tapi jangka panjang kita rugi sendiri. Hei, kita boleh saja merasa lebih keren sekarang, menganggap orang lain kuper, nggak gaul, tertawa bahak, tapi jangka panjang, boleh jadi kitalah yang terdiam, ditertawakan banyak orang.

Maka, sungguh penting sekali memikirkan apakah kita sedang mengurus keperluan jangka panjang kita, atau hanya fokus pada hal2 bersifat temporer. Sekali kita yakin bahwa itu bermanfaat untuk masa depan kita, maka jangan pedulikan lagi omongan orang lain, pun termasuk bisik sesat dan ragu2 dari diri sendiri. Kitalah yang tahu persis isi hati kita, bukan? Termasuk rencana2 kita? Buahnya, insya Allah, akan kita petik kelak, sepanjang tekun dan bersabar.

Berpikir pendek, berpikir jangka panjang ini, dalam sebuah pribahasa klasik pernah ditulis dengan sangat baik sbb: jika rencana kita hanya hitungan bulan, cukup tanam saja padi. Jika rencana kita hitungan puluhan tahun, maka mulailah menanam pohon. Tapi sungguh, jika rencana kita adalah ratusan tahun, maka mulailah memberikan pendidikan yang baik bagi siapapun, termasuk bagi diri sendiri.

Maka semoga kita tidak termasuk golongan orang2 yang tertipu oleh indahnya godaan kepentingan/kesenangan sesaat. Lupa janji masa depan yang lebih lama, awet dan tidak bisa diulang lagi.


Sumber: Tere Liye

Wahai Lelaki Bertanggungjawablah...

Posted: Senin, 18 Maret 2013 by Arif Ramadha in Label: , ,
0


Sejak tahun 2004 atau sembilan tahun yang lalu, secara berkala saya datang ke Hongkong untuk berbagi ilmu dengan para pahlawan devisa. Di sela-sela acara seminar atau training saya selalu menyempatkan diri mendengarkan “curhat” dari mereka. Hingga kunjungan kali ini (16-18 Maret) isi “curhatnya” hampir seragam, mereka dijadikan ATM hidup bagi keluarganya di Indonesia.

Ada seorang sarjana elektro yang sudah bekerja di Hongkong selama 9 tahun. Ia tak pernah ambil cuti, fokus mengumpulkan uang untuk kuliah dua adiknya. Uang pensiunan orang tuanya tak cukup untuk memenuhi kehidupan keluarganya. Ia rela menunda pernikahan demi keluarga dan kuliah adik-adiknya. Kini usianya sudah 32 tahun.

Wanita ini pekerja keras. Dari ceritanya, saya mendapat banyak pelajaran. Pertama, jangan pernah berharap dari uang pensiun. Nilai rupiah yang selalu mengalami inflasi setiap tahun menjadikan uang pensiun yang diterima saat tua tak cukup untuk membiayai keluarga. Nilai 5 juta saat ini, menjadi sangat tak berharga 20 tahun yang akan datang.

Persiapkan kehidupan usai pensiun Anda sejak sekarang. Jangan berharap belas kasih dan balasan dari anak-anak untuk kehidupan masa tua Anda. Kelebihan penghasilan yang Anda terima, investasikan untuk sesuatu yang menghasilkan. Jangan habiskan penghasilan Anda hanya sekedar untuk memperbaiki gengsi dan penampilan, itu bisa menyiksa Anda di masa tua.

Kedua, latihlah anak laki-laki bertanggungjawab. Saat keluarga tak berdaya, seharusnya penanggungjawab utama adalah anak laki-laki bukan perempuan. Latihlah sejak kecil, anak lelaki Anda bertanggungjawab. Setiap saya hendak ke luar kota, saya membiasakan diri berkata kepada anak lelaki saya, “Jaga ibumu, kakakmu, dan rumahmu. Kau anak laki-laki, kau pemimpin, kau pelindung mereka.”

Sebagai lelaki seharusnya malu apabila ada anggota keluarganya yang perempuan harus pergi jauh ke Hongkong atau tempat lain demi membiayai keluarga. Apalagi sampai saudara perempuannya rela menunda pernikahannya. Lebih tak tahu diri lagi, apabila ada lelaki yang rela meminta uang dari hasil tetesan keringat saudara perempuannya. Malulah, bercerminlah wahai lelaki…

Laki-laki itu pelindung bagi keluarga dan saudara perempuannya. Laki-laki itu memuliakan kaum perempuan. Laki-laki itu bertanggungjawab atas keluarga dan saudara perempuannya yang belum menikah. Ayo kaum lelaki, bertanggungjawablah…
Salam SuksesMulia!

Sumber:  http://www.jamilazzaini.com/wahai-lelaki-bertanggungjawablah/

Welcome march...

Posted: Selasa, 05 Maret 2013 by Arif Ramadha in Label:
0

Selamat datang bulan maret,bulan spesial bagi diriku,semoga dibulan ini menjadi awalan bagiku untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


@My home,Banjarmasin
20:35

Keluarga Besar JCI Tarakan

Posted: Rabu, 20 Februari 2013 by Arif Ramadha in Label:
2

Keluarga Besar JCI Tarakan

3 Doors Down - Here Without You

Posted: by Arif Ramadha in Label: , ,
0

A hundred days have made me older
Since the last time that I saw your pretty face
A thousand lies have made me colder
And I don't think I can look at this the same
But all the miles that separate
Disappear now when I'm dreaming of your face

I'm here without you baby
But you're still on my lonely mind
I think about you baby
And I dream about you all the time

I'm here without you baby
But you're still with me in my dreams
And tonight it's only you and me, yeah

The miles just keep rollin'
As the people leave their way to say hello
I've heard this life is overrated
But I hope that it gets better as we go, oh yeah yeah

I'm here without you baby
But you're still on my lonely mind
I think about you baby
And I dream about you all the time

I'm here without you baby
But you're still with me in my dreams
And tonight girl it's only you and me

Everything I know and anywhere I go
It gets hard but it won't take away my love
And when the last one falls, when it's all said and done
It gets hard but it won't take away my love, whoa

I'm here without you baby
But you're still on my lonely mind
I think about you baby
And I dream about you all the time

I'm here without you baby
But you're still with me in my dreams
And tonight girl it's only you and me, yeah oh yeah oh

Selamat Pagi...

Posted: by Arif Ramadha in Label:
2

Selamat pagi tarakan...cuaca masih mendung,sinar mentari pun belum memancarkan sinarnya.

Renungan Hari Ini...

Posted: Selasa, 19 Februari 2013 by Arif Ramadha in Label: ,
0

  Jalan hidup seseorang dimasa kini, merupakan kumulasi dari ingatan dan  pengalaman   
  dimasa lalu.

  Mimpi itu tidak dilarang...!
  tapi lebih penting dari itu, bagaimana kita bisa mengukur kesahihan mimpi tersebit,
  dan mewujudkannya dengan keringat sendiri"

  Mumpung masih muda, hidup tak boleh dianggurkan...!
  orang muda harus kreatif, jujut dan berdisiplin.
  sekolah sepanjang hidup...! 
 
  Tata kembali mimpi kita itu
  secara lebih terukur
  jadilah petualang pintar
  yang mampu mewujudkannya
 
  Meningkatkan kemampuan diri amat penting
  karena kemampuan diri merupakan kumulasi
  modal amat berharga saat kita harus menghidupi diri sendiri,
  dan kemungkinan menghidupi orang lain kelak.
 
   18:20
   Tarakan, disore hari menjelang waktu maghrib....